Kristen adalah
suatu agama yang disampaikan oleh Yesus dan umat kristen biasanya menyebut dirinya pengikut Yesus sedangkan Yesus sendiri dalam alkitab
dikisahkan semasa hidupnya mempraktekkan yudaisme atau ajaran agama yahudi, dan
memang agama kristen yang kita kenal sekarang berakar pada yudaisme dan
terdapat keterkaitan yang erat antara agama kristen dan agama yahudi. Akhir-akhir
ini ada kalangan di Indonesia yang mempopulerkan kembali Yudaisme yaitu kembali
ke akar yudaik, ke bahasa ibrani, dan kepada ajaran yudaisme seperti kembali
menyebut nama YHWH, menjalankan hari-hari raya yahudi, dan melakukan syariat
taurat, namun bukan ini yang menjadi topik kita kali ini
Di dunia saat ini terdapat lebih
dari 41.000 denominasi kekristenan, mereka semua mengaku pengikut Yesus.
benarkah berbagai ajaran gereja yang berbeda dan bahkan betentangan satu sama
lain tersebut adalah ajaran Yesus sejati ??
untuk mejawabnya kita dapat menguji rasionalitas ajaran tersebut dalam
perspektif logika-yudaisme dengan menggunakan pertimbangan yang logis dari
pikiran sehat berdasarkan akal budi
manusia dan juga meneropongnya dari sudut pandang ajaran yudaisme bila
diperlukan, hal ini disebabkan karena
kekristenan berakar pada yudaisme dan adanya kaitan yang
erat antara agama kristen dan agama yahudi. agama kristen adalah kelanjutan
dari ajaran agama yahudi sebelum kelahiran Yesus, karena itulah banyak nabi
yahudi juga diakui sebagai nabi-nabi agama kristen.
Kekristenan dan
yudaisme
Sebagaimana kita
tahu hubungan antara Kristen dan Yahudi ialah
bahwa kekristenan tidak bisa dilepaskan dengan ajaran yahudi, kitab suci perjanjian lama milik agama yahudi
diakui menjadi bagian dari alkitab sebagai kitab suci agama kristen,
keterkaitan ini menjadikan agama dan orang Kristen adalah orang Israel/Yahudi
secara rohani, mereka sama-sama menganggap dirinya adalah anak Abraham.
Dalam agama
kristen diajarkan bahwa Perjanjian Lama meletakkan dasar untuk
pengajaran-pengajaran dan peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Baru, Demikian
pula, Perjanjian Baru hanya dapat dipahami secara utuh ketika dipandang sebagai
sesuatu yang dibangun di atas dasar peristiwa-peristiwa, tokohnya, hukum,
sistem persembahan, perjanjian dan berbagai janji Perjanjian Lama.
Perjanjian lama
mempunyai peran yang sangat penting dalam agama kristen, Jika orang kristen
membaca alkitab hanya mengunakan Perjanjian Baru, mereka tidak tahu kenapa
orang-orang Yahudi mencari Mesias (Raja Penyelamat). Tanpa Perjanjian Lama, mereka
juga tidak akan mengerti untuk apa Mesias datang dan tidak dapat mengenali Yesus, orang Nazaret
itu seutuhnya, Tanpa Perjanjian Lama, mereka tidak akan dapat memahami adat
istiadat orang-orang Yahudi yang hanya disebutkan secara sambil lalu dalam
Perjanjian Baru.
Kekristenan banyak
bergantung pada perjanjian lama, dari alkitab dapat diketahui kebiasaan buruk
bangsa yahudi yang suka mengubah ayat-ayat tuhan jauh sebelum kelahiran yesus,
bahkan saat pengajaran yesus orang-orang
Farisi sering melakukan pemutarbalikan terhadap hukum Allah dan menambahkan
kebiasaan mereka sendiri pada hukum itu,
Tanpa perjanjian lama umat kristen tidak akan dapat memahami ajaran
kristen secara benar, mereka tidak akan mengerti mengapa Yesus begitu marah
ketika Dia menyucikan halaman Bait Allah dan
tidak akan mengerti akan hikmat yang sama yang digunakan Yesus ketika
berulang kali Dia menanggapi para seterunya baik manusia maupun Iblis, orang
kristen percaya bahwa kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul dalam Perjanjian
Baru mencatat banyak penggenapan nubuat yang diutarakan ratusan tahun terdahulu
dalam Perjanjian Lama. Banyak dari nubuat-nubuat ini berhubungan dengan
kedatangan pertama dari Mesias.
Namun mereka
meyakini bahwa Dalam agama kristen diajarkan bahwa Yesus dan para Rasul tidak
mengajarkan kembali ke agama yahudi melainkan kembali kepada Allah, pencipta
langit dan bumi, menurut dokrin kristen, mereka sudah dimerdekakan dari hukum
Taurat dan syariatnya oleh Injil Anugerah Keselamatan yang diajarkan dan
ditebus oleh Yesus diatas kayu salib.
Karena itu umat
kristen berpandangan bahwa kekristenan mengajarkan agar memperbaharui
Perjanjian Lama dengan hati yang baru dan mengikuti Perjanjian Baru dengan
bimbingan Roh Kudus agar umat kristen
dipenuhi dengan iman, pengharapan, dan kasih.umat kristen mengambil
sikap untuk tidak kembali kepada ke"yahudi"an melainkan kembali kepada ajaran
Yesus dan hubungan kekristenan dengan yudaisme tidak ada kecuali bahwa yudaisme
berkaitan dengan kebangsaan dan tradisi yahudi yang dimengerti dalam terang
Perjanjian Lama.
Kekristenan dan rasionalitas
Suatu Agama pasti
diyakini kebenarannya oleh pemeluknya, walaupun orang lain meragukan bahkan
menyalahkan agama tersebut, apapun alasannya namun bagi pemeluknya agama itu 100
% benar, demikian pula halnya dengan agama kristen, pemeluknya tidak meragukan
sedikitpun akan kebenarannya, hal ini bisa terjadi karena menyangkut masalah
keimanan.
Pada suatu masa
pernah terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan dan ajaran gereja, dikarenakan
sikap gereja yang menolak ilmu pengetahuan karena bertentangan dengan alkitab, sikap
bermusuhan selama berabad-abad mematikan kratifitas para ilmuwan, namun
demikian kebenaran tidak mungkin ditutupi selama-lamanya. saat yang ditunggu
akhirnya datang juga yang dkenal sebagai masa pencerahan, saat itu mulailah ada keberanian untuk
melakukan kritik kepada ajaran gereja dan sampai saat inipun banyak kalangan
terpelajar menganggap Kekristenan yang diajarkan gereja tidak masuk akal
(irasional), khususnya mengenai kepercayaan terhadap Trinitas, adalah fakta
bahwa di eropa dan amerika saat ini banyak gereja yang kosong dan dijual karena
sepinya pengunjung bahkan tidak sedikit teolog yang menganggap alkitab banyak
mengandung kesalahan dan kontradiksi.
Tuduhan yang ditujukan pada Kekristenan lebih keras lagi dengan menganggap
bahwa Kekristenan itu anti rasionalitas. Benarkah demikian, bahwa
kepercayaan Kristen itu tidak masuk akal bahkan anti rasionalitas ? Lalu,
bagaimana sikap orang Kristen menanggapi tuduhan tersebut ? tentu saja orang
kristen tidak diam begitu saja terhadap tuduhan ini, mereka mengadakan
perlawanan yang sengit. Selama berabad-abad itu juga orang Kristen terus
melakukan pembelaan dalam upaya mempertanggungjawabkan keimanannya.
Untuk mematahkan
tuduhan yang mengatakan bahwa ajaran kristen itu tidak rasional, banyak kalangan
kristen yang berapologi bahwa kecerdasan manusia yang terbatas itu tidak dapat
sepenuhnya memahami kebenaran ilahi yang tidak terbatas. Mereka berpendapat
bila belum dapat mengerti sepenuhnya bukan berarti bahwa sesuatu itu
tidak masuk akal, karena itu agar dapat mengerti segala sesuatu itu, harus
dimulai dengan iman terlebih dahulu, setelah seseorang beriman kepada ajaran
kristen pasti akan dapat mengerti dan menerima doktrin kristen atas bimbingan
roh kudus.
Banyak kritikus
yang menolak pendapat ini, bagaimana mungkin harus beriman terlebih dahulu,
bukankah iman timbul setelah mengerti dan bisa menerima suatu ajaran
setelah mempertimbangan berdasarkan akal
sehat ?? bukankah ini seperti mempertanyakan telur dan ayam manakah yang lebih
dahulu ??
Memang benar bahwa
kebenaran ilahi adalah tidak terbatas, namun salah besar bila mengatakan
kecerdasan manusia yang terbatas itu tidak dapat sepenuhnya memahaminya. Harus
kita ingat bahwa keberadaan agama adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia bukan
untuk kepentingan Tuhan maka sangat aneh dan janggal bila ada agama yang
berpijak pada ajaran yang tidak rasional kemudian dengan mudahnya menyalahkan
manusia yang tidak bisa menerima ajaran tersebut karena adanya keterbatasan
manusia.
Allah tentunya
sudah memikirkan Kapasitas berpikir kita agar dapat menerima segala firmanya, Rasionalitas
manusia adalah karunia tak terhingga dari sang pencipta, Penggunaan pikiran
atau akal budi kita merupakan tindakan yang memuliakan Allah. Keimanan manusia
atas keberadaan Tuhan bukanlah tidak masuk akal. Allah tidak membiarkan manusia
begitu saja, Allah selalu membimbing manusia melalui nabi-nabinya. Tidak satu pun
yang irasional dari firmannya yang diturunkan kepada kita. Iman selalu
melibatkan unsur-unsur pengetahuan (fakta-fakta), ketaatan (kebenaran) dan
tindakan kehendak (percaya). Kita mendengar, memproses, dan merespon Allah (firman) dengan menggunakan pikiran kita. Iman dan akal budi tidak bertentangan
tetapi saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.
Keimanan atas ajaran suatu agama harus bersedia untuk diuji secara
rasional baik fakta-faktanya maupun keakuaratannya, dengan memeluk suatu agama.
tidak berarti kita menjadi tidak logis. Pemeluk agama seharusnya logis dalam
pemikiran, menaruh perhatian dengan berpegang pada kebenaran yang
sungguh-sungguh dan bukan yang salah, terutama mengenai Tuhan, bagaimana dengan
ajaran kristen apakah benar-benar rasional ?? untuk mendapatkan jawabannya tentu
saja harus diuji terlebih dahulu
Artikel berseri "Rasionalitas Ajaran Gereja dalam Perspektif Logika-Yudaisme" terdiri dari beberapa seri, diantaranya adalah :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar