Minggu, 03 April 2016

Rasionalitas Ajaran Gereja dalam Perspektif Logika-Yudaisme - The Series

Kristen adalah suatu agama yang disampaikan oleh Yesus dan umat kristen biasanya menyebut dirinya pengikut Yesus sedangkan Yesus sendiri dalam alkitab dikisahkan semasa hidupnya mempraktekkan yudaisme atau ajaran agama yahudi, dan memang agama kristen yang kita kenal sekarang berakar pada yudaisme dan terdapat keterkaitan yang erat antara agama kristen dan agama yahudi. Akhir-akhir ini ada kalangan di Indonesia yang mempopulerkan kembali Yudaisme yaitu kembali ke akar yudaik, ke bahasa ibrani, dan kepada ajaran yudaisme seperti kembali menyebut nama YHWH, menjalankan hari-hari raya yahudi, dan melakukan syariat taurat, namun bukan ini yang menjadi topik kita kali ini


Di dunia saat ini terdapat lebih dari 41.000 denominasi kekristenan, mereka semua mengaku pengikut Yesus. benarkah berbagai ajaran gereja yang berbeda dan bahkan betentangan satu sama lain tersebut adalah ajaran Yesus sejati ??  untuk mejawabnya kita dapat menguji rasionalitas ajaran tersebut dalam perspektif logika-yudaisme dengan menggunakan pertimbangan yang logis dari pikiran sehat berdasarkan  akal budi manusia dan juga meneropongnya dari sudut pandang ajaran yudaisme bila diperlukan,  hal ini disebabkan karena kekristenan berakar pada yudaisme dan  adanya kaitan yang erat antara agama kristen dan agama yahudi. agama kristen adalah kelanjutan dari ajaran agama yahudi sebelum kelahiran Yesus, karena itulah banyak nabi yahudi juga diakui sebagai nabi-nabi agama kristen.


Kekristenan dan yudaisme

Sebagaimana kita tahu hubungan antara Kristen dan Yahudi ialah  bahwa kekristenan tidak bisa dilepaskan dengan ajaran yahudi,  kitab suci perjanjian lama milik agama yahudi diakui menjadi bagian dari alkitab sebagai kitab suci agama kristen, keterkaitan ini menjadikan agama dan orang Kristen adalah orang Israel/Yahudi secara rohani, mereka sama-sama menganggap dirinya adalah anak Abraham.

Dalam agama kristen diajarkan bahwa Perjanjian Lama meletakkan dasar untuk pengajaran-pengajaran dan peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Baru, Demikian pula, Perjanjian Baru hanya dapat dipahami secara utuh ketika dipandang sebagai sesuatu yang dibangun di atas dasar peristiwa-peristiwa, tokohnya, hukum, sistem persembahan, perjanjian dan berbagai janji Perjanjian Lama.

Perjanjian lama mempunyai peran yang sangat penting dalam agama kristen, Jika orang kristen membaca alkitab hanya mengunakan Perjanjian Baru, mereka tidak tahu kenapa orang-orang Yahudi mencari Mesias (Raja Penyelamat). Tanpa Perjanjian Lama, mereka juga tidak akan mengerti untuk apa Mesias datang dan  tidak dapat mengenali Yesus, orang Nazaret itu seutuhnya, Tanpa Perjanjian Lama, mereka tidak akan dapat memahami adat istiadat orang-orang Yahudi yang hanya disebutkan secara sambil lalu dalam Perjanjian Baru.

Kekristenan banyak bergantung pada perjanjian lama, dari alkitab dapat diketahui kebiasaan buruk bangsa yahudi yang suka mengubah ayat-ayat tuhan jauh sebelum kelahiran yesus, bahkan saat pengajaran yesus  orang-orang Farisi sering melakukan pemutarbalikan terhadap hukum Allah dan menambahkan kebiasaan mereka sendiri pada hukum itu,  Tanpa perjanjian lama umat kristen tidak akan dapat memahami ajaran kristen secara benar, mereka tidak akan mengerti mengapa Yesus begitu marah ketika Dia menyucikan halaman Bait Allah dan   tidak akan mengerti akan hikmat yang sama yang digunakan Yesus ketika berulang kali Dia menanggapi para seterunya baik manusia maupun Iblis, orang kristen percaya bahwa kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru mencatat banyak penggenapan nubuat yang diutarakan ratusan tahun terdahulu dalam Perjanjian Lama. Banyak dari nubuat-nubuat ini berhubungan dengan kedatangan pertama dari Mesias.

Namun mereka meyakini bahwa Dalam agama kristen diajarkan bahwa Yesus dan para Rasul tidak mengajarkan kembali ke agama yahudi melainkan kembali kepada Allah, pencipta langit dan bumi, menurut dokrin kristen, mereka sudah dimerdekakan dari hukum Taurat dan syariatnya oleh Injil Anugerah Keselamatan yang diajarkan dan ditebus oleh Yesus diatas kayu salib.

Karena itu umat kristen berpandangan bahwa kekristenan mengajarkan agar memperbaharui Perjanjian Lama dengan hati yang baru dan mengikuti Perjanjian Baru dengan bimbingan Roh Kudus agar umat kristen  dipenuhi dengan iman, pengharapan, dan kasih.umat kristen mengambil sikap untuk tidak kembali kepada ke"yahudi"an melainkan kembali kepada ajaran Yesus dan hubungan kekristenan dengan yudaisme tidak ada kecuali bahwa yudaisme berkaitan dengan kebangsaan dan tradisi yahudi yang dimengerti dalam terang Perjanjian Lama.


Kekristenan  dan rasionalitas

Suatu Agama pasti diyakini kebenarannya oleh pemeluknya, walaupun orang lain meragukan bahkan menyalahkan agama tersebut, apapun alasannya namun bagi pemeluknya agama itu 100 % benar, demikian pula halnya dengan agama kristen, pemeluknya tidak meragukan sedikitpun akan kebenarannya, hal ini bisa terjadi karena menyangkut masalah keimanan.

Pada suatu masa pernah terjadi pertentangan antara ilmu pengetahuan dan ajaran gereja, dikarenakan sikap gereja yang menolak ilmu pengetahuan karena bertentangan dengan alkitab, sikap bermusuhan selama berabad-abad mematikan kratifitas para ilmuwan, namun demikian kebenaran tidak mungkin ditutupi selama-lamanya. saat yang ditunggu akhirnya datang juga yang dkenal sebagai masa pencerahan,  saat itu mulailah ada keberanian untuk melakukan kritik kepada ajaran gereja dan sampai saat inipun banyak kalangan terpelajar menganggap Kekristenan yang diajarkan gereja tidak masuk akal (irasional), khususnya mengenai kepercayaan terhadap Trinitas, adalah fakta bahwa di eropa dan amerika saat ini banyak gereja yang kosong dan dijual karena sepinya pengunjung bahkan tidak sedikit teolog yang menganggap alkitab banyak mengandung kesalahan dan kontradiksi. 



Tuduhan yang ditujukan pada Kekristenan lebih keras lagi dengan menganggap bahwa Kekristenan itu anti rasionalitas.  Benarkah demikian, bahwa kepercayaan Kristen itu tidak masuk akal bahkan anti rasionalitas ? Lalu, bagaimana sikap orang Kristen menanggapi tuduhan tersebut ? tentu saja orang kristen tidak diam begitu saja terhadap tuduhan ini, mereka mengadakan perlawanan yang sengit. Selama berabad-abad itu juga orang Kristen terus melakukan pembelaan dalam upaya mempertanggungjawabkan keimanannya.


Untuk mematahkan tuduhan yang mengatakan bahwa ajaran  kristen itu tidak rasional, banyak kalangan kristen yang berapologi bahwa kecerdasan manusia yang terbatas itu tidak dapat sepenuhnya memahami kebenaran ilahi yang tidak terbatas. Mereka berpendapat bila belum dapat mengerti sepenuhnya bukan berarti  bahwa sesuatu itu tidak masuk akal, karena itu agar dapat mengerti segala sesuatu itu, harus dimulai dengan iman terlebih dahulu, setelah seseorang beriman kepada ajaran kristen pasti akan dapat mengerti dan menerima doktrin kristen atas bimbingan roh kudus.

Banyak kritikus yang menolak pendapat ini, bagaimana mungkin harus beriman terlebih dahulu, bukankah iman timbul setelah mengerti dan bisa menerima suatu ajaran setelah  mempertimbangan berdasarkan akal sehat ?? bukankah ini seperti mempertanyakan telur dan ayam manakah yang lebih dahulu ??

Memang benar bahwa kebenaran ilahi adalah tidak terbatas, namun salah besar bila mengatakan kecerdasan manusia yang terbatas itu tidak dapat sepenuhnya memahaminya. Harus kita ingat bahwa keberadaan agama adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia bukan untuk kepentingan Tuhan maka sangat aneh dan janggal bila ada agama yang berpijak pada ajaran yang tidak rasional kemudian dengan mudahnya menyalahkan manusia yang tidak bisa menerima ajaran tersebut karena adanya keterbatasan manusia.

Allah tentunya sudah memikirkan Kapasitas berpikir kita agar dapat menerima segala firmanya, Rasionalitas manusia adalah karunia tak terhingga dari sang pencipta, Penggunaan pikiran atau akal budi kita merupakan tindakan yang memuliakan Allah. Keimanan manusia atas keberadaan Tuhan bukanlah tidak masuk akal. Allah tidak membiarkan manusia begitu saja, Allah selalu membimbing manusia melalui nabi-nabinya. Tidak satu pun yang irasional dari firmannya yang diturunkan kepada kita. Iman selalu melibatkan unsur-unsur pengetahuan (fakta-fakta), ketaatan (kebenaran) dan tindakan kehendak (percaya). Kita mendengar, memproses, dan merespon Allah (firman) dengan menggunakan pikiran kita. Iman dan akal budi tidak bertentangan tetapi saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.



Keimanan atas ajaran suatu agama harus bersedia untuk diuji  secara rasional baik fakta-faktanya maupun keakuaratannya, dengan memeluk suatu agama. tidak berarti kita menjadi tidak logis. Pemeluk agama seharusnya logis dalam pemikiran, menaruh perhatian dengan berpegang pada kebenaran yang sungguh-sungguh dan bukan yang salah, terutama mengenai Tuhan, bagaimana dengan ajaran kristen apakah benar-benar rasional ?? untuk mendapatkan jawabannya tentu saja harus diuji terlebih dahulu


Artikel berseri "Rasionalitas Ajaran Gereja dalam Perspektif Logika-Yudaisme" terdiri  dari beberapa seri, diantaranya adalah :







Tidak ada komentar:

Posting Komentar